Mengembalikan Yang Tergilas

>> Kamis, 02 Desember 2010

(Catatan bagi kamu muda saat ini)

Semua orang tak terkecuali remaja tentu punya keinginan untuk menjadi orang hebat dan sukses dalam berbagai hal serta diakui keberadaannya, dikenal dan dikagumi keadaannya, diterima hasil karyanya, dipuji penampilannya, dan ditunggu kehadirannya. Pasti dong! Siapa sih yang gak ingin seperti itu?

Artinya, seorang remaja ingin dirinya baik menurut dirinya sendiri dan baik pula di mata orang lain. Hal ini wajar dimiliki para remaja karena hasrat kaum mudanya masih membara. Bang H. Rhoma Irama dalam sebuah lirik lagunya mendendangkan bahwa “darah muda darahnya para remaja yang selalu merasa gagah tak pernah mau mengalah, masa muda masa yang berapi-api yang maunya menang sendiri walau salah tak perduli”.

Namun, pada kenyataannya remaja nggak begitu paham dan mengerti bagaimana berproses untuk bisa menjadi orang pada kategori di atas, justru mereka cenderung mempunyai perspektif salah yang mengangap semua hal dapat dilakukan belakangan seperti layaknya film-film di ending ceritanya; menjadi baik belakangan.

Masa Lembab Remaja

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan. Masa kanak-kanak mengantarkannya pada pintu usia kedewasaan yang mungkin dalam diri mereka masih melekat sifat ke-childish-annya.

Masa perpindahan orientasi dari kanak-kanak menuju kedewasaan tersebut kerap menuai keterkejutan, shock dan kebingungan pada diri remaja disebut juga masa 'lembab' bagi remaja. Karena pada masa inilah semua karakter bisa 'tumbuh-mengakar' bila tak cermat dalam melalui masa penuh fantasi ini.

Selain itu, remaja juga merupakan salah satu elemen perkembangan yang siap mengakses seluruh tatanan nilai yang bersentuhan dengan segala aspek kehidupan, dalam keadaan dan taraf tertentu, insting sorting (memilah dan memilih) masih tidak dapat diandalkan. Akibatnya, nilai apapun dapat terserap tanpa proses sorting yang baik pula.

Akibatnya, krisis rasa malu pun pada diri remaja mencapai puncaknya, dengan istilah “anak baru gede” mereka tak merasa canggung lagi melakukan hal yang aib menurut agama. Justru suatu pemandangan yang 'aneh bin ajaib' bila ada seorang merasa malu melakukan semua itu. Gelaran kuper, kutu buku, sok alim, anak kampungan bakal segera menyerangnya.

Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullahu mengatakan, “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh ke dalam kejelekan adalah rasa malu. Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.”

Sebenarnya malu itu apa sih, Pren? Dari segi bahasa, “malu” itu adalah kata sifat sedangkan si empunya disebut sebagai “pemalu” yang artinya segan melakukan sesuatu di luar kemauannya sendiri.
Para ulama menjelaskan malu adalah akhlak yang dapat membawa seseorang meninggalkan perbuatan tercela dan mencegah dari mengurangi hak yang lainnya. Demikian dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu, malu yang ada pada diri manusia ada dua macam:

Pertama, malu yang berasal dari tabiat dasar seseorang. Ada sebagian orang yang Allah anugerahi sifat malu sehingga orang itu sudah pemalu dari sononya (sejak kecil). Tidak berinteraksi kecuali pada sesuatu yang penting menurutnya. Ini dia, Pren. Orang uzlah di jaman modern namanya.

Kedua, malu yang didapat dari latihan bukan pembawaan. Artinya, seseorang tadi bukan seorang pemalu. Dia cakap dalam berbicara dan tangkas berbuat apa pun. Lantas, dia bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan baik, sehingga dia ketularan sifat itu dari mereka. Malu yang bersifat pembawaan itu lebih utama daripada yang kedua ini.

Seharusnya, kita patut bersyukur karena telah dianugerahi rasa malu. Rasa malu adalah pembeda antara manusia dengan hewan. Malu merupakan sifat yang terpuji yang dapat mencegah pemiliknya dari melaksanakan kejelekan atau menjatuhkan pada keharaman.
Sekarang, di masa kayak ginilah para remaja dituntut untuk mencari figur yang bisa dijadikan suri tauladan dalam perjalanan mencari jati diri menuju kedewasaan berfikir, bertingkah laku, serta pola kehidupannya.

Pencarian Figur

MuDaers—istilahnya KOMPAS—disebut dengan, adalah masa yang membutuhkan bimbingan dari keberadaan orang tua di sisinya. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam membentuk kepribadian anaknya di masa setelahnya. Menjadi orang tua yang baik bukan berarti selalu mendampingi kemanapun sang anak pergi serta 'menyetir' anaknya sehingga pada akhirnya ia merasa jenuh dan bosan berkumpul dengan keluarga. Ingat! Figur dapat menentukan kepribadian remaja. Salah dalam memilih figur dapat berakibat pada masa depannya.

Mencari figur yang baik tentunya butuh waktu yang tak sedikit, untuk mengetahui karakter seseorang saja tidak cukup dengan melihatnya secara sepintas. Orang tua dibutuhkan kerja aktif dalam membantu mencarikan figur sang anak, bukan berarti orang tua ikut campur terhadap hak privasi sang anak, hanya saja orang tua sebagai pengontrol di saat sang anak bergelagat tak seperti biasanya.

Dalam dunia islam, figur paling dipuja dan dipuji adalah Nabi Muhammad SAW—bukan berarti penulis memvonis agar Nabi Muhammad dijadikan figur bagi remaja kita saat ini. Paling tidak janganlah meniru gaya dan pergaulan barat yang sudah di luar batasan orang islam.

Sebuah solusi

Buat para MuDaers, malu itu sifat yang pasti ada dalam diri seseorang termasuk juga makhluk yang bernama remaja, namun, rasa malu kadang hilang gara-gara terkikis oleh pergaulan yang salah, untuk menjadi remaja ideal kita harus punya seorang yang patut diteladani dan mau meneladaninya.

Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang artinya, “Malu itu termasuk keimanan dan keimanan itu tempat di surga sementara kekejian itu termasuk kekerasan dan kekerasan itu tempat di neraka.”

Jadi, buat kamu yang ingin menjadi remaja gaul plus sholeh serta masuk surga kelak buruan perbaiki diri kalian dari sekarang! Janganlah jadi remaja kacangan! Satu kata terakhir untukmu, Nothing is Impossible! Semoga...

Read more...

Ijinkan Aku, Meminangmu Dalam Kata

>> Senin, 06 September 2010

Kupandang nanar hadiah yang pernah kau berikan kepadaku, hadiah tanda ulang tahunku. Kala itu, saat semuanya masih berjalan baik-baik saja. Ketika kau masih milikku; meski tak sepenuhnya. Sesekali aku merasa memperoleh apa yang aku inginkan. Tapi, di sisi lain aku takut untuk melupakan atau bahkan kehilanganmu. Kadang aku terlalu naïf mengingat kejadian yang tak seharusnya aku pikirkan lagi dan selayaknya musnah bersama laju waktu.

Hati ini terasa sesak mengingat kejadian yang lalu itu, saat aku baru menginjakkan kaki di tanah kampung halaman, kembali dari perjalanan panjangku mencari jati diriku. Tiba-tiba teman karibku datang dengan membawa kabar memilukan tentangmu, tentang pernikahanmu dengan tunanganmu yang katamu kau tak suka padanya.

***

Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal di benakku, hal yang tak dapat aku cerna dengan mudah. Kenyataan yang harus aku terima dengan lapang dada. Namun sulit, sakit. Aku tak bisa untuk itu. Aku belum siap kehilanganmu. Karena kehilanganmu sama dengan membuang separuh jiwaku. Aku sendiri tak mengerti mengapa diriku ini sangat tak bisa untuk melupakanmu apalagi sampai kehilanganmu. Mungkin nama Revalina Dwi Agustin telah merasuk dan menjelma hingga mendarah daging dalam diriku? Aku tak tau.

Waktu itu, kau sempat bilang tak akan menghianatiku untuk yang kedua kalinya. Aku percaya kepadamu hanya saja belum yakin. Dan akhirnya, semua terjawab saat ini. Tapi, kenapa kau lakukan itu sekarang? Apa kau lupa akan sumpahmu? Atau bahkan kau telah lupa akan segalanya? Entahlah. Mungkin sudah sepantasnya aku seperti ini, karena kebodohanku yang telah meracuniku selama ini.

Perlahan. Aku mulai mengumpulkan serpihan ingatanku akan ritual sumpah kita saat itu, saat dinginnya malam mulai sirna karena sang mentari akan segera keluar dari peraduannya. Namun kita tak kunjung selesai dengan hal-ihwal mengenai perjalanan cinta kita yang telah berjam-jam kita bahas; terhanyut dalam dialog tak bertepi.

Andai aku berpikir jernih sejak dahulu, mungkin semuanya tak akan kembali seperti yang kualami saat ini. Luka kembali menganga bahkan berdarah dan tak sempat sempat mengering pula. Semua itu bermula dari diriku. Namun mengapa aku baru menyadari bila semuanya sudah telanjur.

Ah, aku hanya bisa pasrah kepada-Nya, pasrah bukan berarti aku bisa melupakanmu begitu saja. Daya dan upaya telah kulakukan untuk melupakan semua ini. Namun dalam lubuk hatiku yang paling dalam ada getaran lain yang berontak serta dan berkata lain.

Tak terhitung berapa kali aku tumpahkan embun bening dari mataku, hingga mataku terasa gersang bak kemarau tujuh musim tanpa ada sedikit pun hujan yang tumpah. Kata orang aku cengeng, tapi aku yakin jika ada yang merasakan hal yang sama seperti aku rasakan saat ini, bukan hal yang mustahil untuk bermuram durja atau lebih parah dari itu.

“Fan! Andai aku bisa memilih, pasti aku akan pilih kau. Tapi coba mengertilah,” desahmu waktu itu. Tak ada gunanya lagi memohon, ibarat nasi sudah sudah jadi bubur, tak mungkin menjadi nasi kembali. Kenyataan sudah di depan mata. Yang ada dalam benakku saat ini adalah melupakanmu sebisa mungkin.

“Tidak, aku yakin bisa melupakannya. Sama seperti dia melupakan aku,” ucapku membatin, meyakinkan diriku bahwa inilah jalan yang terbaik, jalan yang tuhan buat untukku. Sulitnya menerima takdir sama dengan sulitnya aku melupakanmu dan lesung pipit di pipimu membentuk guratan petir yang tak simetris sarat akan keindahan membuatku hidup dalam lamunan.

Gejolak batin yang timbul setelah kau jauh dariku sungguh membuatku tak kuasa. Hidupku terasa hampa tanpa canda tawa, duka cita saat kita masih bersama. Ekspresi batin bardialog dengan nafsu yang berharap bisa untuk sekedar bertegur sapa kembali. Dan jika aku kembali melihatnya rasa sedih, benci, suka akan melebur jadi satu membentuk gumpalang mendung di mataku.

Dua rasa itu tetap berdialog dalam hatiku selama asa dan harapanku tak kunjung pupus jua untuk terus mengingat raut indah yang tak dapat aku lukiskan dalam dunia nyata. Setiap jengkal perjalanan waktu yang terlewati aku terus mencoba dan kerap pula memaksa untuk benar-benar dapat melupakannya. Ada bisikan yang mengisyaratkan ketakutan untuk dapat melupakannya. Dialog ini membuat kecamuk membuatku terbang dalam masa lalu suram tak berarah.

Permintaan terakhir dariku, meskipun kau tak menjadi milikku, aku turut bahagia karena tuhan memberikan jalan terbaik ini bagiku. Jalan yang aku pun harus belajar melewatinya. Ada banyak hal baru yang aku peroleh setelah kau tak lagi milikku. Percaya inilah yang terbaik bagiku bahkan juga engkau.

Terimakasih telah memberi warna dalam kehidupanku, warna yang sebentar lagi akan luntur bersama petualangan waktu. Satu yang kuinginkan darimu, meski kau bukan bagian dari hidupku lagi, tapi ijinkan aku meminangmu dalam rerimbun dunia kata.

Read more...

Pelajar Muda NU digodok Jurnalistik

>> Kamis, 29 Juli 2010

“Jika kau bukan anak seorang raja atau putra ulama besar, maka jadilah penulis!”
(Imam al-Ghazali)

Ungkapan di atas cukup memberi inspirasi sekaligus semangat yang berapi-api bagi kami sebagai pelajar muda Nahdlatul Ulama yang dari dulu dianggap sebagai orang yang out of date alias kolot, karena selalu merujuk kepada kitab-kitab tradisional. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi kami: pelajar NU Sumenep Madura.

Kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran Jalan Trunojoyo, Sumenep, terlihat tak seperti biasanya, terdengar suara pengeras suara dari celah jendela lantai dua. Ya, waktu itu adalah pembukaan Diklat Jurnalistik 2010.

Sabtu-Senin (24-26/07) yang lalu, kami yang tergabung dalam delegasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se Kabupaten Sumenep mengikuti Diklat Jurnalistik 2010 dengan tema “Peran Pers dalam Mengawal Kebijakan Publik” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC.IPNU-IPPNU) bertempat di Aula Pusdiklat PCNU Sumenep.

Jurnalis Muda

Menjadi jurnalis ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi bukan berarti tak dapat dipelajari. Pasalnya, memasuki hari pertama Diklat Jurnalistik, melalui bimbingan Kak Fida –sapaan akrab Zakiyatul Mufidah— koordinator reporter TV9 membuka wawasan kami tentang dunia jurnalistik dengan unsur dasar berita yaitu “5W+1H”. Senyum ramah ala Kak Fida membuat kami bersemangat mengikuti pelatihan hingga usai, meski kami bisa dikatakan orang yang baru berkenalan dengan dunia jurnalistik tapi ternyata tak terlalu sulit memahaminya.

“Singkatnya, menjadi seorang jurnalis itu cukup dengan mempunyai vitalitas yang kuat dan belajarlah dari kesalahan,” kurang lebih begitu pesan Kak Fida di akhir pertemuannya kepada kami. Mendengar itu dari Kak Fida, rasa optimis untuk menjadi jurnalis muda tumbuh pada diri para peserta.

Di hari kedua, kami mulai siap mental untuk menjadi wartawan dengan tambahan wawasan dari Moh. Hayat, salah satu wartawan Radar Madura (Jawa Pos Group), dengan teknik wawancara yang dia tularkan kepada kami selama menjadi wartawan koran lokal.

Selain itu, kami juga diajari menulis opini dan artikel dengan bimbingan Zainul Ubbadi dari Madura Channel melalui tulisannya “Opini, Mahluk Apakah Dikau?”, kami tak hanya dilatih untuk menjadi seorang jurnalis tapi juga seorang penulis handal.

Di hari terakhir, dengan dibentuk berkelompok kami akan segera diturunkan ke lapangan dan menerima tugas sebagai ‘wartawan’ yaitu hunting news atau ‘berburu’ berita, Uniknya, semua nama kelompok mengambil nama seorang wartawan.

Kelompok kami, Goenawan Mohamad, dengan berbekal ilmu jurnalistik yang diperoleh selama dua hari, serta mendapat tugas turun lapangan mencari informasi seputar “Minat Baca Masyarakat Sumenep”, kami pun menuju Perpustakaan Daerah (PERPUSDA), tempat yang menurut kami paling pas untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.

Dari kantor PCNU Sumenep yang terletak di pinggiran jalan Trunojoyo Sumenep, melewati sepanjang trotoar berjalan ke utara menuju PERPUSDA berjarak sekitar 1.5 KM di bawah terik matahari yang menyengat dengan semangat wartawan, jarak itu tak terasa hingga sampai di PERPUSDA.

Awalnya, sesampainya di pintu masuk, rasa takut mulai berkecamuk dalam diri kami; takut salah tingkah, salah perkataan, salah mengajukan pertanyaan semua telah mengisi penuh benak kami. Dengan memberanikan diri, akhirnya kami masuk dan menemui Ibu Sri Agustina, koordinator pengelolaan perpustakaan, Tanya jawab pun dimulai. Rasa takut seketika sirna ketika kami jalani. Setelah mempunyai banyak data, kami pun kembali ke kantor PCNU untuk segera membuatnya menjadi berita yang siap dipertanggungjawabkan di depan peserta yang lain dan panitia.

Dalam perjalanan menuju pulang, rasa takut kembali hinggap dalam diri kami, kali ini takut data yang kami peroleh kurang valid dan tidak sesuai. Namun, kami ingat dengan pesan Kak Fida, “Belajarlah dari kesalahan”, kami pun mencoba memantapkan diri bahwa kami adalah jurnalis pemula dan wajar berbuat kesalahan.

Dengan “5W+1H” yang diperoleh dari Kak Fida, kami mencoba menulisnya menjadi berita yang dapat dipahami dengan mudah. Tak sulit ternyata meskipun penggunaan bahasanya agak kaku. Satu lagi tantangan yang harus dihadapi, yaitu mempertanggung jawabkan berita yang kami peroleh.

Data yang kami dapatkan sudah cukup banyak, kini kami siap untuk beradu dengan kelompok lain dengan tugas yang berbeda, kelompok yang lain ada yang mendapat bagian ke KPU Sumenep, KAPOLRES Sumenep, Serta ke para PKL di Sumenep.

Tak disangka, kelompok kami Goenawan Mohamad menjadi kelompok terbaik dalam Diklat Jurnalistik 2010 tersebut. Meskipun hanya dalam tingkat kabupaten, tapi itu cukup membuat kami berbangga dan membawa pulang kesan menarik mengikuti Diklat Jurnalistik.
Selepas itu, kami alumni Diklat Jurnalistik 2010 diamanahi untuk mengisi blog IPNU-IPPNU: www.pelajar-nu.blogspot.com serta akan dibuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk kemudian dijadikan kru dalam media berupa majalah mini yang akan segera digarap guna tetap mempertahankan yang diperoleh. Sebagai langkah awal melahirkan Jurnalis Muda NU.

Read more...

Rindu Padamu, Facebook!

>> Minggu, 20 Juni 2010

“Sudah berapa purnama tak sua denganmu, membuatku rindu akan segalanya; rindu akan canda tawa ketika kubersamamu,” rengekku dalam hati. Entah, sudah berapa bulan aku tak membuka akun facebookku. Bukan karena seperti yang terjadi di Pakistan, pemblokiran terkait Kontes bertema "Everybody Draw Mohammed Day" di Facebook. Melainkan karena ketidaklayakan santri dalam mengakses jejaring sosial itu, kira-kira begitu kata salah seorang pengurus pesantren tempatku mondok.

Facebook, jejaring sosial yang dirintis pada tahun 2006 oleh salah seorang mahasiswa Harvard University bernama Mark Zuckerberg. Dan kemudian menggejala di indonesia pada pertengahan tahun 2008 dengan tampilannya simple, komplit dan tak seribet jejaring sosial lainnya.

Di Annuqayah, jejaring ini baru dikenal sekitar awal tahun 2009 itupun hanya di kalangan para pengasuh muda atau dikenal dengan “Lora” Annuqayah hingga kemudian menular kepada santri yang bisa mengakses internet sampai akhirnya santri yang tak pernah mengakses internet pun mempunyai keinginan yang kuat untuk coba-coba.

Pada akhir tahun 2009, kurang lebih 70% santri Annuqayah mempunyai akun Facebook, sebagian dari mereka berawal dari rasa ingin coba-coba hingga kemudian kecanduan dan kesehariannya ingin selalu digunakan untuk FB-an. Dan sebagiannya lagi hanya pengisi waktu senggang ketika mampir di warnet untuk tugas sekolah sehingga butuh referensi dari internet.

Seorang pengurus tempatku mondok pernah bilang. “Facebook, bahaya diakses oleh santri! selain bisa membuat kecanduan juga dijadikan alat untuk berkomunikasi dengan orang yang lain muhrim atau bahkan hubungan antara santri putra ke putri begitu juga sebaliknya”.
Menurutku, semua hal baru pasti mempunyai sisi baik dan buruk. Tergantung darimana kita akan melihat dan menilainya, tapi kebanyakan dari kita lebih dulu melihat sisi buruknya tanpa memandang juga sisi baiknya. Setidaknya, pengalaman ini mengajariku untuk tidak mengovergeneralisasi suatu hal.

Ketika kita tak suka akan satu hal bukan berarti kita harus membenci atau bahkan melarangnya. Sesuatu hal akan dianggap baik oleh seseorang ketika hal tersebut mempunyai sisi kebaikan yang lebih banyak dibandingkan dengan sisi keburukannya (bagi orang tersebut). Begitu pula sebaliknya Sesuatu hal akan dianggap buruk oleh seseorang ketika hal tersebut mempunyai sisi keburukan yang lebih banyak dibandingkan dengan sisi baiknya (bagi orang tersebut).

Menilai dengan sebelah mata, ketika orang mengatakan itu buruk, kita mudah ikut tanpa mencari sisi buruk manakah yang mereka nilai. Terlebih, Masyarakat kita pada umumnya sering terjebak dalam kesalahan berpikir. Kesalahan berpikir ini adalah
overgeneralisasi suatu hal tanpa melihat sisi lain di balik peristiwa itu. Pola pikir alternatif terkadang diperlukan ketika terjadi hal yang sulit dicarikan jalan keluar.
Berpikir positif memiliki dampak dan pengaruh besar dalam kehidupan. Saat kita mulai berpikir positif, kekuatan besar datang mengimbangi cara berpikir kita untuk tetap melakukan hal-hal baik dengan cara yang baik. Dengan berpikir positif, kita akan terhindar dari dampak kehidupan yang buruk serta tak mudah memandang sebelah mata. Semoga!

Read more...

Sepenggal Kisah Tentang “Lorong Cangka”

>> Jumat, 02 April 2010

Sekilas, kata “Lorong Cangka” mungkin terdengar agak rada-rada asing di telinga kita. Pantas, karena nama tersebut bukan berasal dari bahasa Indonesia. Melainkan hanya salah satu dari sebagian banyak ungkapan masyarakat Madura yang berarti “Jalan simpang”, entah itu simpang tiga, empat dan seterusnya. Intinya “Lorong Cangka” adalah ungkapan yang menunjukkan jalan simpang.

Dalam kosa kata bahasa Madura banyak sekali ungkapan menarik yang membuat kita penasaran untuk mengetahui artinya dalam penggunaan bahasa Indonesia. Namun, sedikit pula orang yang ingin meneliti tentang keberagaman bahasa madura –termasuk orang madura sendiri− yang keunikan budaya, seni serta lainnya tak diragukan lagi.

Falsafah “Lorong Cangka”

Butuh kontemplasi yang memakan waktu lama hanya untuk memberi nama pada blog saya ini. Hingga kemudian saya cendrung berganti-ganti blog, mulai dari nama blog saya yang dulu yaitu “Shareang” yang berarti tunggal dalam bahasa Madura. Tapi karena kurang menyatu dengan kehidupan saya, akhirnya saya hapus blog tadi. Lagi-lagi saya menggunakan istilah madura untuk blog saya.

Detik berganti menit, hari demi hari silih berganti dan pada akhirnya saya menemukan secercah titik terang untuk nama blog. Mulanya, saya membuat semacam database hanya demi memberi nama blog saya ini.

Pertama, saya berpikir dari apakah nama tersebut akan saya ambil. Dan alhasil, saya mantap akan memberi nama blog itu dari sejarah perjalanan merajut cinta monyet saya dengan kekasih saya waktu masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau sederajat dengan Sekolah Dasar (SD). Entah itu cinta monyet atau cinta macam-macam saya tak begitu paham. Intinya dialah yang pertama membuat saya klepek-klepek atau keok. Hikz… Hikz… Mungkin agak lucu memang.

Mengapa harus “Lorong Cangka”?

Sebenarnya itu semua adalah hak privasi saya. Namun, apa salahnya jika saya terus terang dan terang terus agar pikiran saya tak ruwet dan cepat keriput alias tua saat umur masih masih relatif muda.

Langsung aja biar gak bertele-tele, nama blog saya itu terinspirasi dari rumah kekasih saya dulu yang terletak di jalan simpang tiga yang jaraknya bisa dibilang lumayan jauh dari rumah saya sendiri. Orang-orang menyebutnya dengan “Lorong Cangka”.

Entahlah, kekasih monyet saya −Ups… Salah bukan monyet tapi cinta monyet maksudnya− sekarang bagaimana kabarnya, saya kurang tau banyak. Tapi, kata sebagian teman saya bilang dia sudah bertunangan. Aduh…. Memang terkesan melankolis cerita saya ini.

Tapi yang jelas dia telah memberi warna bagi kehidupan saya, dari kelam menjadi berwarna, meski itu tak seberapa. Terpenting, dia telah memberi saya banyak inspirasi. Baik dari penamaan blog ini dan lain-lainnya yang tak mungkin saya sebutkan semua karena itu menyangkut perasaan saya sendiri. He… He… maaf mungkin ending cerita saya ini mengecewakan. Tapi tolong mengertilah.

Terakhir, saya ingin para pembaca agar tak cuma sekali mengunjungi blog saya ini, artinya sering-seringlah berkunjung ke blog terakhir saya ini untuk sekedar sudi mampir dan memberi sedikit komentar demi perjalanan karir saya, yakni mencari inspirasi lewat kata.

Read more...